LIPUTANPUBLIK.ONLINE – Gambaran keluarga bahagia sering diperlihatkan lewat potret kebersamaan di meja makan. Pembahasan hal penting sangat lajim disampaikan ketika momentum makan bersama. Sehingga, program Kembali ke Meja Makan menjadi salah satu kegiatan yang melibatkan emosi keluarga, dalam Rangkaian Hari Keluarga Berencanan Nasional (Harganas) ke 31 di Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan Sarapan Bergizi Keluarga Kembali ke Meja Makan, dilaksanakan di Balai Diponegoro, Jumat (28/6/2024) pun menggambarkan pentingnya kebersamaan dan mempererat hubungan emosional keluarga.
“Tiga hal yang tergambar lewat momentum kembali ke meja makan, pertama waktu berkualitas, kebersamaan, lalu mentransformasikan nilai-nilai di dalam keluarga kepada anak-anak, dan ketiga tentu yang ada hubungannya dengan stunting. Kita kritisi lah meja makan kita sudah memenuhi syarat atau belum untuk mencegah stunting, untuk gizi yang seimbang, dan untuk kualitas SDM yang unggul,” ujar Dokter Hasto, Kepala BKKBN, dalam kegiatan sarapan bergizi keluarga, melalui gerakan kembali ke meja makan, di Balai Diponegoro, Jawa Tengah, Jumat (28/6/2024).
Nilai gizi yang harus dikritisi tidak harus mahal. Pasalnya, lebih pada kecermatan melihat kualitas makanan. Seminal daripada membeli produk pabrikan yang harganya juga tidak murah, kenapa tidak membeli produk yang lebih alami tapi dari sisi gizi lebih baik. Dokter Hasto mencontohkan, dari pada membeli daging impor, lebih baik membeli ikan nila, lele, bandeng yang protein dan omega tiga nya lebih lengkap. Sementara sisi harga tentinya akan lebih terjangkau tanpa harus membeli produk pabrikan atau produk impor.
“Kembali ke meja makan juga bagian dari budaya yang harus terus dijaga. Memang kita tidak bisa setiap hari berkumpul, karena kesibukan, tapi meja makan bisa mengembalikan kehilangan waktu dengan anak-anak kita. Memanfaatkan waktu quality time yang bagus itu seperti apa? Sambil membahas makanan yang memiliki nilai gizi tinggi untuk kesehatan keluarga. Ini satu harapan kita bisa curhat di meja makan antar anggota keluarga,” urai dokter Hasto.
Makanan yang bergizi yang harus ada di meja bukan hanya untuk ibu hamil, balita, dan yang mau hamil. Tetapi orang tua juga, karena beberapapa tahun kedepan di Indonesia akan melimpah penduduk lansia. ” Tadi makanan yang di depan bapak ibu sekalian luar biasa itu kira-kira makanan balita atau ibu hamil ya? Ini ibu hamil atau mungkin calon pengantin itu cocok. Tapi kalau boleh saya mereview sedikit kalau untuk balita telurnya bagus, ibu hamil juga bagus. Karena telur itu mengandung DHA dan Omega 3. Maka saya lihat tadi telurnya pada habis,” ucapnya sambil melepas tawa.
Lebih lugas dokter Hasto menjabarkan, nasi mengandung karbohidrat yang memang untuk tenaga, sehingga harus ada nasinya, ada daging atau ikan. “Ini ahlinya teman-teman dari Badan Pangan yang juga harus menjelaskan. Mencegah stunting harus ada protein hewani tetapi ikan dan telur jauh lebih baik karena mengandung DHA Omega 3. Jadi saya kira makanan yang kita makan cukup bergizi dan ada buahnya,” tutup dokter Hasto.
Pada kesempatan yang sama, Pj Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Drs. Nana Sudjana sangat bersyukur ada rangkaian Harganas kembali ke meja makan. Momentum itu diakuinya sangat menggugah emosinya, dimana ditengah berbagai hiruk pikuk kesibukan, kembali ke meja makan bisa membuat suasana lebih akrab.
“Terimakasih Pak Kepala BKKBN. Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan kegiatan sarapan bergizi keluarga, jadi melalui gerakan kembali ke meja makan ada emosi yang terbangun, ingat kebersamaan,” kata Pj Gubernur Jateng, Nana Sudjana.
Dia juga berharap, dari berbagai rangkaian kegiatan pelaksanaan Harganas diakuinya merupakan penghargaan bagi Jateng. Karena ada pergerakan manusia di Jawa Tengah sejak 23-30 Juni, ada juga pameran dan banyak kegiatan yang membuat pertumbuhan ekonomi.
“Kegiatan yang sangat bermanfaat, ini juga dalam rangka pengentasan kemiskinan,
Kemudian juga penurunan stunting, jadi dapat berjalan dengan baik penurunan stunting, dan karena gerakan atau pun sarapan bergizi keluarga ini merupakan salah satu untuk menurunkan stunting,” ujarnya.
Nana Sudjana menggambarkan, masyarakat di Jawa Tengah, terkadang orang tua terlalu sibuk, lupa dengan keluarga, padahal untuk mencetak generasi yang unggul perlu ada quality time, perlu ada waktu yang berkualitas untuk memperhatikan anak-anak. “Lewat kegiatan ini diingatkan, dan saya rasa ini suatu inovasi, jadi ke depan ini akan menjadi karakter bangsa. Keluarga yang berbahagia akan merupakan karakter suatu bangsa. Keluarga yang berbahagia menjadi kuat, dan menjadi negara yang maju dan tangguh, lewat keluarga yang bahagia,” tutupnya. (ney)
