Ini Empat Faktor Penyebab Kualitas Udara di Jakarta Buruk


LIPUTANPUBLIK.ONLINE – Kualitas udara di Jakarta menunjukan penurunan dalam beberapa hari terakhir. Apalagi mendekati puncak musim kemarau yang terjadi pada pertengahan tahun atau biasanya terjadi bulan Juli 2024.

Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rasio Ridho Sani mengatakan, sejumlah faktor yang membuat menurunnya kualitas udara di Jakarta. Salah satunya, berasal dari asap kendaraan bermotor.

“Faktor pertama adalah kegiatan dari emisi kendaraan bermotor. Kedua, emisi dari kegiatan usaha. Ketiga, kegiatan-kegiatan pembakaran terbuka oleh masyarakat. Termasuk juga kegiatan terkait konstruksi,” kata Rasio di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Ia berpesan, masyarakat tidak membakar sampah secara terbuka karena dapat membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Bahkan asap hasil pembakaran tersebut mengakibatkan polusi udara.

“Kami mohon, kami ingatkan kembali kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara terbuka. Karena ini banyak, tahun kemarin ada 86 yang kami hentikan,” imbau Rasio.

“Ini akan kami lakukan penindakan hukum secara tegas,” tambahnya.

Selaim itu, ia mengingatkan pihak yang melakukan pekerjaan konstruksi, biasanya pengerjaan proyek sering membuka lahan cukup besar, jika terjadi angin kencang menghasilkan debu.

“Kami harapkan pekerjaan konstruksi memperhatikan dampak-dampak lingkungan, khususnya berkaitan dengan pencemaran udara dari kegiatan mereka,” ujar Rasio.

Ia mengharapkan, kegiatan konstruksi bisa mengendalikan potensi pencemaran udara dari kegiatan mereka karena cukup besar. “Berapa lokasi kami lihat lokasi pembangunan dan konstruksi ini terjadi penurunan kualitas udara juga,” imbuhnya.

Berdasar laman resmi IQ Air, perusahaan teknologi kualitas udara asal Swiss menyebutkan, kualitas udara Jakarta berada pada peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara tidak sehat pada, Kamis (20/6/2024).

Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) berada pada angka 165 dengan konsentrasi partikel (PM) 2.5 berada di angka 76 mikrongram per meter kubik (µg/m³). Itu terjadi pada pukul 05.50 WIB. (dan)



Source link

By redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *