{"id":4658,"date":"2024-07-01T11:39:07","date_gmt":"2024-07-01T11:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/07\/01\/tekan-angka-kematian-bayi-mencegah-infeksi-virus-rsv-harus-jadi-prioritas-pemerintah\/"},"modified":"2024-07-01T11:39:07","modified_gmt":"2024-07-01T11:39:07","slug":"tekan-angka-kematian-bayi-mencegah-infeksi-virus-rsv-harus-jadi-prioritas-pemerintah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/07\/01\/tekan-angka-kematian-bayi-mencegah-infeksi-virus-rsv-harus-jadi-prioritas-pemerintah\/","title":{"rendered":"Tekan Angka Kematian Bayi, Mencegah Infeksi Virus RSV Harus Jadi Prioritas Pemerintah"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><a data-mil=\"268176\" href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/\"><strong>LIPUTANPUBLIK.ONLINE<\/strong><\/a> \u2013 Neonatologi, Prof Dr dr Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K) mengingatkan bahwa pentingnya bagi Pemerintah berupaya meningkatkan awareness, pencegahan, diagnosis, dan treatment (supportive) akan kasus Respiratory Syncytial Virus (RSV) di Indonesia. Untuk diketahui, dalam salah satu studi multicentre tahun 2022 terkait epidemiologi community-acquired pneumonia (CAP) di Indonesia, RSV menjadi satu dari lima pathogen utama yang ditemukan.<\/p>\n<p>Temuan ini menyebutkan bahwa kasus RSV di Indonesia mencapai sebanyak 27,1% dan menempati urutan ke-2 penyebab CAP pada anak usia di bawah 5 tahun. Bahkan pada kasus mix infection maupun single infection akibat virus, RSV merupakan pathogen yang sering ditemui di studi ini.<\/p>\n<p>Berdasarkan salah satu review literatur sistematik, laju insidensi Lower Respiratory Tract Infection (LRTI) atau infeksi saluran nafas bagian bawah akibat infeksi RSV di Indonesia sebesar 50,1 per 1000 anak per tahun dengan jumlah kejadian sebanyak 1.245.1852. Dimana insidensi dan proporsi infeksi RSV yang mengakibatkan LRTI dan LRTI berat itu lebih banyak terjadi pada kelompok usia &lt; 1 tahun.<\/p>\n<p>Merujuk data dari empat penelitian lokal secara terpisah juga menunjukkan kalau ini adalah virus yang muncul setiap tahun. Dimana kasus puncaknya terjadi pada minggu 48 (Awal Desember) hingga minggu 16 (Akhir Maret). Namun, para ahli masih yakin ini akan mengikuti flu yang berlangsung sepanjang tahun.<\/p>\n<p>Faktor risiko utama untuk infeksi RSV parah adalah pada bayi prematur dan bayi jangka panjang dengan kelainan CP (Celebral Palsy). Dimana ada 2,02% insiden bayi prematur berisiko tinggi yang lahir dengan ID RSV. Adapun mortalitas pada bayi premature berisiko tinggi hingga 3% sedangkan mortality rate COVID pada anak-anak adalah 0,4%. Ini artinya risiko terkena RSV lebih tinggi bagi bayi prematur. Sedangkan Indonesia adalah 5 negara teratas di dunia yang memiliki kelahiran prematur \u2013 risiko tinggi.<\/p>\n<p>Prof Rina memaparkan bahwa banyak kejadian LRTI seperti pneumonia dan bronkiolitis yang dicurigai disebabkan oleh RSV. Namun terkadang ini tidak terdeteksi secara optimal karena terbatasnya akses tes diagnostik untuk memeriksa keberadaan virus RSV. \u201cMaka sangat penting infeksi RSV menjadi perhatian pemerintah, terutama untuk mencegah beban penyakit kematian dini bayi dengan risiko tinggi yang diakibatkan pneumonia akibat infeksi RSV,\u201d tegasnya kepada awak media.<\/p>\n<p>Dalam hal ini, Prof Rina juga menyebut kalau pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia tentang bahaya penyakit yang disebabkan oleh RSV pun umumnya masih rendah, termasuk orang tua dengan anak yang berisiko tinggi terhadap RSV. Salah satu parameter yang mudah diukur adalah dengan melihat google trend di Indonesia dengan kata kunci \u201cinfeksi RSV\u201d dan \u201cPneumonia\u201d sebagai salah satu outcome dari RSV.<\/p>\n<p>\u201cBisa dilihat bahwa masih sedikit masyarakat yang mengaitkan RSV dengan Pneumonia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti terbatasnya informasi yang bisa diakses dan kurangnya kampanye edukasi publik terkait infeksi RSV,\u201d ungkap Prof Rina.<\/p>\n<p>Prof Rina mengatakan bahwa sampai saat ini tidak ada pengobatan definitif untuk infeksi RSV (hanya terapi suportif).\u00b2 Maka itu, pencegahan merupakan upaya yang paling penting untuk dilakukan. Urgensi mengenai pencegahan infeksi RSV perlu dilakukan, terutama untuk pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi RSV yang berat.<\/p>\n<p>Menurut Prof Rina, Pemerintah harus berupaya meningkatkan awareness, khususnya untuk pasien dengan risiko tinggi dan juga dampak jangka panjang yang ditimbulkan. \u201cHal ini bisa berupa kampanye disease awareness, dan juga edukasi berkelanjutkan dari segara lapisan pemangku kepentingan, baik tenaga medis (dokter), masyarakat, pemerintah, dan lainnya,\u201d ia menambahkan.<\/p>\n<p>Selain itu, lanjut Prof Rina, pemerintah juga dapat berupaya untuk meningkatkan akses diagnostik untuk pemeriksaan virus, khususnya RSV. Sehingga kasus LRTI akibat RSV bisa diketahui dengan optimal, sehingga baik dokter maupun orang tua aware bahwa virus RSV ini berdampak. \u201cSelanjutnya, upaya dari segi treatment (suportif treatment). Memastikan bahwa pasien yang mengalami dampak parah akibat RSV dapat tertangani dengan baik,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>\u201cPada bayi prematur dan kelompok risiko tinggi lainnya, selain membatasi penularan dan penyebaran RSV dengan perilaku hidup bersih dan sehat, perlu dipertimbangkan pemberian imunoprofilaksis atau profilaksis\/pencegahan menggunakan antibodi monoklonal spesifik RSV (Palivizumab). Penggunaan mAb spesifik untuk mencegah RSV ini sudah diterapkan di negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Australia, Jepang dan lainnya. Kemudian untuk tetap memproteksi dari bahaya pneumonia, dapat dilanjutkan dengan vaksin lainnya, sesuai jadwal Imunisasi yang ada.20\u201d pungkas Prof Rina.<\/p>\n<p>Untuk diketahui, RSV merupakan infeksi yang utamanya menyerang sistem pernafasan, menyebabkan berbagai gejala mulai dari gejala ringan seperti flu hingga gangguan pernafasan yang lebih parah, terutama pada populasi rentan seperti bayi, anak kecil, dan orang dewasa lanjut usia.<\/p>\n<p>RSV sangat menular dan menyebar terutama melalui tetesan pernafasan. Ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, tetesan kecil yang mengandung virus dapat terlepas ke udara dan kemudian terhirup oleh orang lain. Virus ini juga dapat bertahan hidup di permukaan benda selama beberapa jam, sehingga penularan tidak langsung dapat terjadi melalui kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi. <strong>(ibs)<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/gayahidup\/2024\/07\/01\/tekan-angka-kematian-bayi-mencegah-infeksi-virus-rsv-harus-jadi-prioritas-pemerintah\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LIPUTANPUBLIK.ONLINE \u2013 Neonatologi, Prof Dr dr Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K) mengingatkan bahwa pentingnya bagi Pemerintah berupaya meningkatkan awareness, pencegahan, diagnosis, dan treatment (supportive) akan kasus Respiratory Syncytial Virus (RSV) di Indonesia. Untuk diketahui, dalam salah satu studi multicentre tahun 2022 terkait epidemiologi community-acquired pneumonia (CAP) di Indonesia, RSV menjadi satu dari lima pathogen utama yang ditemukan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4659,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-4658","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4658"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4658\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}