{"id":4082,"date":"2024-06-24T01:04:58","date_gmt":"2024-06-24T01:04:58","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/24\/tanri-abeng-www-indopos-co-id\/"},"modified":"2024-06-24T01:04:58","modified_gmt":"2024-06-24T01:04:58","slug":"tanri-abeng-www-indopos-co-id","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/24\/tanri-abeng-www-indopos-co-id\/","title":{"rendered":"Tanri Abeng &#8211; www.indopos.co.id"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a data-mil=\"266980\" href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/\"><strong>LIPUTANPUBLIK.ONLINE<\/strong><\/a> \u2013 Saya selalu kagum dengan kesehatan Pak Tanri Abeng. Di usia 82 tahun masih terlihat gesit. Kami ngobrol asyik di Semarang. Mungkin empat bulan lalu. Atau lima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada tanda-tanda ia mengidap satu jenis penyakit. Badannya terjaga: tidak gemuk. Maka ketika mendengar Pak Tanri meninggal dunia kemarin, rasanya tidak begitu percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang hari itu kami bertemu di klinik. Tapi tidak untuk berobat. Kami justru sedang berusaha agar tetap sehat: sama-sama melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stem cell<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri ketahuan tidak sehat baru dua bulan lalu. Tepatnya tanggal 5 bulan 5. Hari itu ia memimpin rapat sejak pagi sampai sore. Di rumahnya. Di kawasan elite Simpruk Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang hadir di rapat itu adalah seluruh pimpinan universitas yang ia adalah rektornya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri memang mendirikan lembaga pendidikan tinggi menggunakan namanya: Tanri Abeng University. Di daerah Ulujami, Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai rapat itu Pak Tanri merasa lelah. Capek. Lemes. Lalu dibawa ke RS Pertamina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketahuanlah: hb darahnya turun. Trombositnya rendah. Malam itu juga dilakukan tranfusi. Keadaannya pun membaik. Keesokan harinya diterbangkan ke Singapura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir empat minggu Pak Tanri menjalani pengobatan di RS Mount Elizabeth. Di sana diketahuilah bahwa Pak Tanri mengidap leukimia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diobati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah merasa kondisinya membaik ia minta pulang. Maka tanggal 4 Juni lalu Pak Tanri kembali ke Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru saja mendarat di bandara kondisi tubuhnya memburuk. Pak Tanri langsung dimasukkan ke RS Medistra Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situ ia dirawat. Sampai akhirnya meninggal kemarin dini hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berarti Pak Tanri mengurus lembaga pendidikan sampai di akhir hayatnya. Pendidikan adalah panggilan jiwanya. Ia terinspirasi dari guru-gurunya yang hebat di SMK di Makassar. Saking kagumnya pada para guru itu sampai Pak Tanri punya cita-cita jadi guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri sebenarnya lahir di Selayar, sebuah pulau miskin di selatan Sulawesi. Untuk ke kota Makassar diperlukan naik kapal satu malam penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usia 12 tahun Tanri kecil pindah ke Makassar. Ikut keluarga. Itu karena ayahnya meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sekolah menengah kejuruan itulah Tanri mendapat kesempatan ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Waktu itu Tanri aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) \u2013sering disebut sebagai \u201cadik\u201d-nya HMI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Amerika itulah jalan pikiran Tanri berubah. Tidak ingin lagi jadi guru. Ia ingin jadi profesional. Itu sesuai dengan nasehat orang tua angkatnya di Amerika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDengan menjadi profesional kamu bisa punya uang. Setelah kaya baru terjun ke dunia pendidikan. Hasilnya lebih banyak.\u201d Begitu kurang lebih nasehat sang ortu angkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pulang dari Amerika Pak Tanri kuliah di Universitas Hasanuddin. Hanya lima semester. Ia mendapat beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas di Buffalo, tidak jauh dari air terjun terbesar di dunia: Niagara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan gelar MBA Pak Tanri direkrut oleh perusahaan Amerika di Indonesia: Union Carbide. Itu perusahaan kimia berskala global. Karirnya terus menanjak di situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dunia profesional itu Pak Tanri membuat sejarah: ia-lah orang pertama yang mendapat gelar \u2018Manajer Rp 1 miliar\u2019. Baru di sosok Pak Tanri ada seorang manajer bergaji Rp 1 miliar setahun. Saat itu nilai Rp 1 miliar serasa seperti Rp 100 miliar hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang menyangka itu karena gelar Pak Tanri bukan Drs, SH atau Ir. Gelar Pak Tanri adalah MBA. Agak langka saat itu. Maka gelar MBA terasa menjadi seperti di atas S-1. Anak muda pun seperti berlomba mengejar gelar MBA. Pun bagi yang sudah bergelar S-1. Kini Anda merasakan gelar MBA tidak lagi punya keistimewaan seperti di zaman Pak Tanri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menghebohkan adalah ketika Pak Tanri menerima tawaran menjadi CEO perusahaan bir: Bir Bintang. Padahal latar belakang pribadinya sangat Islam: aktifis PII dan kemudian juga HMI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas Pak Tanri kemudian identik dengan manajer profesional yang hebat. Ilmu manajemen seperti tiba-tiba menjadi sangat penting. Para insinyur ITB dan IPB pun mengejar karir di manajerial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun sampai Presiden Suharto: mengagumi Pak Tanri. Pak Harto memanggilnya. Diajak diskusi mengenai pengelolaan perusahaan negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itulah Pak Tanri mengajukan ide pembentukan kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Lalu Pak Tanri menjadi menteri BUMN yang pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum itu perusahaan negara berada di bawah kementerian teknis masing-masing. Perbankan di bawah menteri keuangan. Industri di bawah menteri perindustrian. Sebangsa Panca Niaga di bawah menteri perdagangan. PLN di bawah menteri PU. Dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak zaman Pak Tanri itulah kekuasaan para menteri atas perusahaan negara dicabut. Semua dialihkan ke kementerian BUMN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri, dengan demikian, adalah \u2018Bapak BUMN\u2019. Jabatan menteri BUMN tetap di tangannya saat presiden berganti ke Prof BJ Habibie. Lalu pindah ke Laksamana Sukardi di zaman Gus Dur. Hanya sekedipan mata. Pak Laks diganti oleh orang NU \u2013saya lupa namanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di zaman Bu Megawati jadi presiden, Pak Laks kembali diangkat menjadi menteri BUMN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tidak jadi menteri Pak Tanri tetap laris: diminta jadi CEO Grup Bakrie. Lalu jadi Komut Pertamina. Jadi CEO di kelompok usaha OSO. Bahkan saat meninggal pun masih menjadi komisaris di salah satu BUMN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Dendam\u2019-nya untuk terjun ke dunia pendidikan dituntaskan di tahun 2011. Saat usianya 70 tahun. Pak Tanri menjual sahamnya di hotel Aryaduta Makassar. Hasilnya: untuk membangun Tanri Abeng University di Jakarta. Ia yang jadi rektornya, sampai meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri memang bertekad harus ia yang langsung\u00a0 memimpin universitas itu. Misinya: agar lulusannya bisa menjadi manajer yang hebat. Atau jadi pengusaha. Atau menjadi seorang pemimpin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di universitas itulah Pak Tanri kehilangan isterinya: Farida Nasution. Farida meninggal di tahun 2016 dengan dua anak: Emil Abeng dan Edwin Abeng. Dari mereka lahir 4 cucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di universitas itu pula Pak Tanri menemukan pengganti Farida. Dia seorang dosen komunikasi: Kartika Harijono. Dipanggil Chika. Janda satu anak. Pak Tanri dan Chika menikah tanggal 4 bulan 5 tahun 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak bisa melayat kemarin. Saya minta tolong Mas Irwan Setiawan untuk mengucapkan duka. Mas Irwan adalah pimpinan Jawa Pos di Jakarta pada masanya. Kini ia menjadi dosen komunikasi di Tanri Abeng University.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu pada dasarnya Pak Tanri tidak memerlukan gelar apa pun selain MBA. Tapi pada akhirnya beliau kuliah S-3 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sampai bergelar doktor. Itu semata-mata karena peraturan:\u00a0 untuk bisa jadi rektor harus bergelar doktor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tanri adalah contoh \u201csekali hidup banyak berbuat\u201d. Juga \u201cbanyak membuat sejarah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>Komentar <\/b><a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=Dahlan+Iskan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Dahlan Iskan<\/b><\/a><b> di <\/b><a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=Harian+Disway%E2%80%9D%20target=\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Disway<\/b><\/a><b> Edisi 23 Juni 2024: <\/b><a href=\"https:\/\/disway.id\/read\/795438\/anies-ahok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Anies Ahok<\/b><\/a><\/p>\n<p><b>djokoLodang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">-o\u2013 KAMERA OTOMATIS Koh-Jo sedang santai mengemudi ketika melihat ada kilatan kamera lalu lintas yang memotretnya menjelang perempatan lampu merah. Dikiranya fotonya diambil karena ngebut. Padahal dia yakin nyetir pelan-pelan saja. Karena punya banyak waktu, Koh-Jo iseng mengitari blok itu dan kemudian melewati tempat yang sama, seraya mengemudi lebih lambat lagi. Tapi sekali lagi kameranya berkedip. Merasa bahwa adegan itu lucu, dia melakukannya sekali lagi. Mengitari blok, lewat di depan kamera itu lagi dengan kecepatan yang lebih lambat lagi, sambil tertawa menyeringai menghadap kamera, dan melambaikan tangannya. \u201cKamera otomatis itu baru dipasang. Pasti belum sempurna\u201d, pikirnya. Dua minggu kemudian, Koh-Jo menerima tiga Surat-Tilang-Otomatis yang dikirim via pos. Berikut lampiran foto sebagai bukti. Dia baru sadar, bahwa saat itu dia mengenudi tanpa memasang sabuk pengaman. -jL\u2013<\/span><\/p>\n<p><b>Agus Suryonegoro III \u2013 \u963f\u53e4\u65af\u00b7\u82cf\u7ea6\u8bfa<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">@Djoko Lodang.. KONTEMPLASI, RENUNGKANLAH, PIKIRKANLAH.. 1). Apakah sekarang Anies Ahok mau bersatu..? Iya. Tapi tekanannya di kata \u201cberubah\u201d. Anies berubah. Ahok berubah. Keduanya udah berubah.. Pasangan AA, membawa thema: Perubahan..!! 2). Apakah itu berarti menghalalkan segala cara, yang penting berkuasa..? Tidak. Yang belum halal, dihalalkan dulu. Caranya..? Berubah..!! 3). Bagaimana dengan potensi \u201cperceraian\u201d di tengah jalan..? Jawaban: Potensi itu harus, dan sudah diminalkan oleh \u201cwaktu\u201d. Ahok banyak berubah, sebagai buah kontemplasi saat di penjara. Anies juga berubah, setelah gagal tinggal di istana. Keduanya sudah berubah..!! ### Karena itu, pilihlah AA. Demi perubahan Indonesia, melalui perubahan di Jakarta..<\/span><\/p>\n<p><b>djokoLodang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">-o\u2013 Sedih setelah menghadiri pemakaman seorang teman baik, Koh-Jo mampir ke restoran Cina untuk menyenangkan hati. Restoran itu menyajikan kue keberuntungan \u2013di dalamnya ada kertas kecil berisi ramalan. Lebih tertarik pada kertas ramalan, diabaikannya kue itu. Kesenangan Koh-Jo berakhir ketika dia baca: \u201cKamu akan segera bertemu kembali dengan seorang teman baik.\u201d \u2013jL-<\/span><\/p>\n<p><b>Wilwa<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">@Mirza. Sepakat. Selain aturan Pilkada, juga karakter yang berlawanan yang menjadi aneh kalau dipasangkan ibarat air dipasangkan dengan api. Air banyak api kecil, matilah sang api. Api besar air sedikit, tak bisa padam apinya.<\/span><\/p>\n<p><b>thamrindahlan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada 3 kosakata kalau dan 7 kata mungkin pada tulisan Chdi bertajuk Anies Ahok \u201cKalau\u2019 tidak salah \u201cmungkin\u2019 bisa dimaknai sebagai prediksi disway.id diterjemahkan sebagai prediksi peluang Anies Baswedan menjabat Gubernur Jakarta. Lagi. Sepertinya Jokowi efek sudah dilupakan disini. Apakah ini petanda redupnya nyala dinasti setelah gojang ganjing Pilpres 2024. Dalam kapasitas warga Jakarta lebih memilih seorang Gubernur yang memiliki niat ikhlas berupa gagasan mensejahterakan rakyat. Mari lupakan sejenak partai partai itu. Pilihan lebih memilih kepada sosok \/ tokoh memiliki track record berhasil melakukan perubahan mendasar pada semua sisi. Padanan Anies Baswedan .Ahok setidaknya merupakan pasangan ideal ditengah heterogenitas penduduk Jakarta. Akan terjadi perlawanan seru dari pihak sebelah. Anda sudah tahu masih banyak oknum Alergie kepada Gagasan Perubahan. Tadinya banyak pengamat sebaiknya Anies menolak pencalonan dirinya. Namun menyisiati begitu besar harapan rakyat kepada Pasangan Gubernur kualitas Dmart disamping keberadaan geografis IKN nun jauh di Kalimantan sana maka glamor Jakarta sebagai kota megapolitan tak akan tertandingi. Satu lagi pembuktian bahwa proses pilkada Jakarta akan menampakkan demokrasi seutuhnya. Pengalaman terdahulu jurus sembako dan peran sebelah mata aparat walikota camat dan lurah idak mempan disini Entah pihak sana sedang mempersiapkan jurus lain untuk menahan Anies Ahok Waalahualam Salamsalam Tempino Jambi.<\/span><\/p>\n<p><b>Juve Zhang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu Mega lah penentu siapa yg akan maju\u2026bu Mega sudah tua masih di minta memikirkan hal hal \u201ckecil\u201d masa kejayaan beliau ketika Zaman Orba\u2026tak ada yg seberani beliau melawan \u201cKim Jo\u00f1g Un\u201d yg reputasi nya menggelegar\u2026bisik bisik politik hanya di Kamar kos\u2026tak berani di muka umum\u2026zaman KimJong Un memang zaman yg gak ada duanya\u2026serem\u2026semua cari selamat diam saja\u2026belakangan bu Mega di benci karena memperlakukan Sang Mister kurang beradab\u2026di dudukan di meja \u201chijau\u201d berhadapan\u2026tentu pembela Mister ngamuk lihat Pujaan nya di perlakukan pesakitan\u2026wkwkw..memang orang orang \u201cpolitik\u201d banyak yg kelakuan nya diluar akal manusia biasa\u2026.coba lihat Mister ini paling aneh juga Cium Cium Tangan Bu Mega sampai bongkok badan nya\u2026lihat photo Mister cium cium tangan sampai bongkok \u2026.kesan nya lihat Mister Aneh\u2026ada apakah Seorang Ketua Paguyuban sampai perlu Di Cium Tangan nya bongkok pasrah\u2026sang Ketua Paguyuban pasti kaget juga lihat Mister yg nyeruduk cium cium tangan\u2026.wkwkwk..semua ke anehan ini mungkin yg mengakibatkan hubungan \u201cpsikologi\u201d kedua nya yg aneh di mata rakyat\u2026yg satu nyeruduk nyeruduk cium tangan sampai bongkok badan\u2026yg satu menghakimi Mister yg duduk di kursi biasa. \u2026tapi orang politik punya tujuan sama aliran apapun\u2026\u201dmenyimpan koleksi photo Mister Benyamin Franklin\u201d\u2026konon itu tak lekang di makan Zaman\u2026akan halnya Rakyat yg menyoblos cukup diberi 10 kg beras sudah mencium tangan Kolektor Mister Benyamin F\u2026..wkwkw.<\/span><\/p>\n<p><b>hoki wjy<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anies dan Ahok jadi perpasangan di Pilgub Jakarta berarti Tuhan sengaja membuat Anies kalah dalam pemilu yg lalu supaya Anies kelak bisa berpasangan dg Ahok di Pilgub Jkt sedangkan Ahok jika jadi berpasangan dengan Anies berararti Tuhan sengaja membuat Ahok masuk penjara utuk melatih kesabarannya agar kelak bisa berpasangan dengan Anies.umpama kelak jika Anies dan Ahok sukses pimpin JKT maka bisa dipastikan Pemilu yg akan datang Anies dan Ahok akan maju sebagai Presiden dan Wapres dan jika itu terjadi maka Anies dan Ahok bisa dipastikan De gaga lawangnya. memang cara Tuhan membuat seseorang menang bisa melalui banyak cara misalnya ekonomi Indonesia yg dipimpin oleh Oke Gas Oke Gas akan dibuat babak belur supaya Anies dan Ahok menang dalam pemilu yg akan datang.<\/span><\/p>\n<p><b>Liam Then<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemda Jakarta harus bisa lepas dari yang namanya \u201cdicucuk hidungnya\u201d. Pembangunan di Jakarta selama ini selalu mengikuti arus modal. Yang ideal harusnya sebaliknya, Pemda mampu pasang tali \u201ccucuk hidung\u201d , mampu kendalikan dan atur arus modal. Coba lihat pengembangan kawasan CBD di Jakarta, berapa persen alokasi APBD yang habis kesana, berapa tinggi tingkat efektifitasnya misal diukur kemanfaatannya kepada masyarakat luas di Jakarta. \u201cTo govern\u201d , \u201cgovernment\u201d, \u201cperintah\u201d , \u201cpemerintah\u201d ini sudah jelas arti katanya. Jadi kalau masih \u201ctercucuk hidung\u201d, susahlah Jakarta bisa berbenah dan membangun, agar lebih banyak lapisan masyarakat bisa menikmati APBD tahunan Jakarta yang besar itu.<\/span><\/p>\n<p><b>Lagarenze 1301<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Santai sejenak. Ratna akhirnya membuat pengakuan ke ibunya. \u201cBu, aku pacaran dengan pria tetangga sebelah,\u201d ujarnya. Ibunya kaget. \u201cTetangga kita yang duda itu?\u201d \u201cIya, Bu. Aku mencintainya.\u201d \u201cAduh, Ratnaa\u2026. Dia \u2018kan sudah berumur. Selisih umur kalian mungkin 30-an tahun.\u201d \u201cUmur hanyalah angka, Bu.\u201d \u201cTapi\u2026. Dia bisa jadi ayahmu, Ratna.\u201d \u201cTidak masalah, Bu. Kami saling mencintai.\u201d \u201cRatna, kamu salah memahami perkataan Ibu,\u201d ujar sang ibu cemas dan panik.*<\/span><\/p>\n<p><b>Fiona Handoko<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">selamat pagi bp thamrin, bung mirza, bp agus, bp jo, bp jz dan teman2 rusuhwan. \u201cbaru jabat 6 bulan. kasatreskrim polresta barelang pemberantas judi online. dimutasi.\u201d demikian berita di kompastv. com tentu kita bertanya2. apakah invisible hand dari \u201cprojo\u201d di barelang begitu kuatnya. hingga berkuasa memutasi seorang komisaris polisi? notes \u201cprojo\u201d = pro ju** onli**<\/span><\/p>\n<p><b>Mirza Mirwan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kehabisan kata untuk melukiskan kebiadaban Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant. Ya, saya tidak menyalahkan serdadu IDF. Mereka bertindak berdasarkan komando. Dua minggu yang lalu saya sudah skeptis bahwa resolusi \u201cpermanent ceasefire\u201d di Gaza yang disetujui 14 negara anggota DK-PBB \u2014 tanpa veto \u2014 bisa dilaksanakan. Bahkan saat draft resolusi yang berasal dari ide Biden diumumkan Biden di Gedung Putih, daya sudah skeptis. Dan ternyata skeptisisme saya benar. Israel justru kian brutal. Tragisnya, kebrutalan mereka dialamatkan ke kamp-kamp pengungsi yang, ironisnya, sebelumnya ditetapkan Israel sebagai zona aman. Kemarin Israel membombardir kamp pengungsi Shati di Tufah, Gaza Utara. Sehari sebelumnya membombardir kamp pengungsi al-Mawasi di Gaza selatan. Sampai sebelum Dhuhur tadi jumlah korban (sipil) yang tewas di Gaza sudah menyentuh angka 37.551 jiwa, sedang yang terluka 85.911 orang. Mungkin benar yang dikatakan putri kecil saya, bahwa Bibi itu iblis dalam ujud manusia. Gelombang demonstrasi menentang Bibi tiap akhir pekan di Tel Aviv yang (tadi malam) mencapai sekitar 100 ribu orang, di sekitar Beit Aghion \u2014 kediaman resmi PM di Jerusalem \u2014 sekitar 30 ribu orang, juga ribuan di sekitar kediaman pribadi Bibi di kota pantai Caesarea, sama sekali tidak membuat iblis Bibi terguncang. Di tengah demonstran di jalan Kaplan, Tel Aviv, Yuval Diskin yang mantan direktur Shin Bet (Shabak) \u2014 Israel Security Agency \u2014 menyebut Bibi sebagai \u2026<\/span><\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/headline\/2024\/06\/24\/tanri-abeng\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LIPUTANPUBLIK.ONLINE \u2013 Saya selalu kagum dengan kesehatan Pak Tanri Abeng. Di usia 82 tahun masih terlihat gesit. Kami ngobrol asyik di Semarang. Mungkin empat bulan lalu. Atau lima. Tidak ada tanda-tanda ia mengidap satu jenis penyakit. Badannya terjaga: tidak gemuk. Maka ketika mendengar Pak Tanri meninggal dunia kemarin, rasanya tidak begitu percaya. Memang hari itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4083,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-4082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4082"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4082\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4083"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}