{"id":3635,"date":"2024-06-15T00:11:30","date_gmt":"2024-06-15T00:11:30","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/15\/puncak-bonus-demografi-dibayangi-angka-kesuburan-yang-makin-menurun\/"},"modified":"2024-06-15T00:11:30","modified_gmt":"2024-06-15T00:11:30","slug":"puncak-bonus-demografi-dibayangi-angka-kesuburan-yang-makin-menurun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/15\/puncak-bonus-demografi-dibayangi-angka-kesuburan-yang-makin-menurun\/","title":{"rendered":"Puncak Bonus Demografi Dibayangi Angka Kesuburan yang Makin Menurun"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong>LIPUTANPUBLIK.ONLINE<\/strong> \u2013 Puncak bonus demografi diperkirakan terjadi pada 2030, berpotensi menyebabkan tingginya angka ketergantungan jumlah penduduk. Hal tersebut mengurangi pertumbuhan produktivitas. Salah satu penyebabnya, ialah menurunnya tingkat kesuburan.<\/p>\n<p>Ketergantungan jumlah penduduk merupakan, perbandingan antara banyaknya penduduk usia non produktif (penduduk usia di bawah 15 tahun\/penduduk muda dan penduduk usia 65 tahun atau lebih\/penduduk tua) dengan banyaknya penduduk usia produktif (penduduk usia 15 sampai 64 tahun).<\/p>\n<p>Tokoh Fertilitas dan Bayi Tabung Indonesia sekaligus founder Smart Fertility Clinic Prof. DR. Dr. Budi Wiweko mengatakan, Indonesia itu rasio terbaik pada tahun 2020 ketika angka ketergantungan sekitar 40 persen. Saat ini, tentu sudah naik karena angka usia tua naik.<\/p>\n<p>\u201c(Tahun) 2030 itu yang sangat mengkhawatirkan total fertility rate (angka kesuburan) makin menurun. Artinya 10 tahun lagi, usia 15 \u2013 64 tahun sedikit dong, kalau di piramida penduduk (segita terbalik) bahaya itu,\u201d kata Budi Wiweko usai diskusi publik mengenalkan smart fertility clinic in vitro fertilization (IVF) di Jakarta, Jumat (14\/6\/2024).<\/p>\n<p>Saat ini, total fertility rate atau total jumlah anak yang dimiliki di Indonesia sepanjang usia reproduksinya di angka 2,14 dan angka kesuburan menjamin sebuah bangsa itu tetap bertahan di angka 2,1.<\/p>\n<p>Jadi, Indonesia harus lebih berhati hati. Jika melihat Jakarta, fertility rate berada di angka 1,75 artinya perempuan di Jakarta itu hanya mempunyai 1 orang anak.<\/p>\n<p>\u201cIni berarti bisa di bilang saat ini Indonesia mengalami population crisis. Sehingga menjadi masalah besar untuk Indonesia,\u201d ucap Wiwieko dalam keterangannya.<\/p>\n<p>Tentunya Indonesia tidak ingin, seperti negara negara lain yang jumlah anak anaknya semakin sedikit. \u201cOleh karena itu layanan fertilitas itu sangat penting,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u201cMakanya kita memakai nama \u2018Smart Fertility Clinic\u2019 kita mengedukasi perempuan-perempuan Indonesia untuk tidak takut memiliki anak,\u201d tambahnya. <strong>(dan)<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/nasional\/2024\/06\/15\/puncak-bonus-demografi-dibayangi-angka-kesuburan-yang-makin-menurun\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LIPUTANPUBLIK.ONLINE \u2013 Puncak bonus demografi diperkirakan terjadi pada 2030, berpotensi menyebabkan tingginya angka ketergantungan jumlah penduduk. Hal tersebut mengurangi pertumbuhan produktivitas. Salah satu penyebabnya, ialah menurunnya tingkat kesuburan. Ketergantungan jumlah penduduk merupakan, perbandingan antara banyaknya penduduk usia non produktif (penduduk usia di bawah 15 tahun\/penduduk muda dan penduduk usia 65 tahun atau lebih\/penduduk tua) dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3636,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3635"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3635\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}