{"id":3392,"date":"2024-06-08T21:16:48","date_gmt":"2024-06-08T21:16:48","guid":{"rendered":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/08\/pengamat-pemilihan-presiden-tidak-langsung-bukan-solusi-atasi-maraknya-money-politic\/"},"modified":"2024-06-08T21:16:48","modified_gmt":"2024-06-08T21:16:48","slug":"pengamat-pemilihan-presiden-tidak-langsung-bukan-solusi-atasi-maraknya-money-politic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/2024\/06\/08\/pengamat-pemilihan-presiden-tidak-langsung-bukan-solusi-atasi-maraknya-money-politic\/","title":{"rendered":"Pengamat: Pemilihan Presiden Tidak Langsung Bukan Solusi Atasi Maraknya Money Politic"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><strong>LIPUTANPUBLIK.ONLINE<\/strong> \u2013 Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) Syarif Hidayatullah Jakarta, A Bakir Ihsan menganggap, wacana pemilihan presiden menjadi tidak langsung atau kembali dipilih MPR bukan solusi terhadap praktik politik uang dalam Pemilu.<\/p>\n<p>\u201cKalau pertimbangannya biaya politik mahal dan maraknya money politic, maka pemilihan tidak langsung bukan jalan keluarnya karena pasti akan terjadi,\u201d kata Bakir melalui pesan elektronik, Jakarta, Sabtu (8\/6\/2024).<\/p>\n<p>Menurutnya, praktik politik uang bukan kesalahan pada metode dalam Pemilu, melaikan karena kebiasaan yang tercipta di tengah para petinggi partai politik.<\/p>\n<p>\u201cYa, problem utama money politic itu bukan pada sistem pemilihan tapi habit yang tercipta pada elite,\u201d ujar Bakir.<\/p>\n<p>Ia berpandangan, persoalan utamanya pemilihan tidak langsung adalah pengendalian politik oleh segelintir orang atas nama wakil rakyat.<\/p>\n<p>\u201cYang punya kuasa menentukan pemimpin nasional (presiden dan wakilnya) hanya 700-an orang dari seratus juta lebih pemilih,\u201d ucap Bakir.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai, wacana pemilihan presiden menjadi tidak langsung hanya siasat para pimpinan parpol yang berada di lingkaran kekuasaan. Sementara mengenai menekan politik uang harus menjadi sikap semua pihak.<\/p>\n<p>\u201cAkal-akalan mereka saja (wacana presiden dipilih MPR). Kalau para politisi berkomitmen tidak mau bagi-bagi politik uang, maka polotik uang tidak akan semarak ini,\u201d nilai Ray terpisah saat dihubungi.<\/p>\n<p>Menurutnya, jika mereka labil, ikut-ikutan menggunakan politik uang untuk jabatan, maka jangankan politik uang, manipulasi suara, politik identitas, dan sebagainya akan mereka lakukan.<\/p>\n<p>\u201cIni soal komitmen pada pemilu demokratis. Jika para politisi berkomitmen untuk tidak menggunakan politik uang, maka politik uang tidak ada,\u201d jelas Ray.<\/p>\n<p>Ketua MPR periode 1999-2004 Amien Rais tak mempersoalkan, jabatan presiden dipilih kembali oleh MPR lewat amendemen UUD 1945. Ia sempat mengira konsep pemilu langsung akan jauh dari praktik politik uang.<\/p>\n<p>\u201cDulu kita mengatakan kalau dipilih langsung, one man one vote mana mungkin ada orang mau menyogok 127 juta pemilih, mana mungkin, perlu ratusan triliun, ternyata mungkin,\u201d tutur Amien Rais usai bertemu dengan pimpinan MPR di kompleks parlemen pada, Rabu (5\/6\/2024). <strong>(dan)<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.indopos.co.id\/headline\/2024\/06\/08\/pengamat-pemilihan-presiden-tidak-langsung-bukan-solusi-atasi-maraknya-money-politic\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LIPUTANPUBLIK.ONLINE \u2013 Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) Syarif Hidayatullah Jakarta, A Bakir Ihsan menganggap, wacana pemilihan presiden menjadi tidak langsung atau kembali dipilih MPR bukan solusi terhadap praktik politik uang dalam Pemilu. \u201cKalau pertimbangannya biaya politik mahal dan maraknya money politic, maka pemilihan tidak langsung bukan jalan keluarnya karena pasti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3393,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3392","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"relative_dates":{"created":"2 years ago","modified":"2 years ago"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3392","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3392"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3392\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3393"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3392"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3392"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputanpublik.online\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3392"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}